Wednesday, March 18, 2015

Menunggu Bank “London” Syariah di Aceh?

5 Februari 2015

Ingatan saya melayang pada suatu diskusi terbatas yang diadakan oleh instansi pemerintah dan dihadiri oleh belasan tokoh mewakili perbankan, aktivis LSM, akademisi, pengusaha dan tokoh masyarakat. Ada satu pertanyaan dari peserta diskusi yang terkesan sederhana namun penting dan kemudian dijawab oleh peserta lain secara santai namun mengena. 


Pertanyaan saat itu adalah, “Mengapa kita harus menjalankan sistem ekonomi syariah atau Islam?”.

Jawabannya “Ya, karena kita kan orang Islam, tentunya harus patuh pada apa yang diatur oleh Islam”.

Menurut saya, jawaban singkat namun padat itu sudah cukup menjadi argumen kuat mengapa sistem ekonomi Islam menjadi sangat penting dan perlu diaplikasikan oleh kita umat Islam.

Sementara nun jauh disana, di bumi belahan Eropa, Perdana Menteri Inggris David Cameron dihadapan seribuan delegasi pada forum ekonomi Islam dunia, World Islamic Economic Forum (WIEF)  ke 9 di London yang saya kutip dari www.economist.com berkata, “Saya ingin London dapat berdiri berdampingan dengan Dubai sebagai salah satu ibu kota keuangan Islam terbesar berbagai negara di dunia”. Pernyataan itu disampaikan pada bulan 2 tahun lalu, tepatnya tanggal 29 Oktober 2013, di London, ibukota Inggris. Ini adalah WIEF pertama kali yang diselenggarakan di luar negara- negara Islam.

Menurut saya Cameron sangat sadar pentingnya sistem ekonomi dan keuangan Islam serta peranannya dalam perekonomian dunia, lantas ia pun memiliki mimpi agar negaranya mampu menyaingi negara- negara Islam dalam tatanan keuangan Islam dunia. Dan kita tahu Mister Cameron bukanlah seorang muslim.

Dua kisah di atas mungkin bisa menjawab urgensi penerapan sistem ekonomi syariah atau Islam, beserta turunannya berupa keuangan syariah, hingga perbankan syariah. Yang pertama adalah karena masalah substansial yaitu kita sebagai umat Islam yang wajib menjalankan ajarannya secara kaffah, dan yang kedua adalah masalah “pasar” atau konsumen keuangan syariah. Disini saya sekadar ingin berbagi tentang yang kedua, yaitu mengenai aspek pasar dalam praktik keuangan atau perbankan syariah.

Pertumbuhan Signifikan
Jika boleh mengutip World Islamic Banking Competitiveness Report 2013-2014, atau laporan Persaingan Bank Syariah Dunia,  yang memaparkan bahwa Indonesia bersama lima negara Islam lainnya mengalami pertumbuhan pasar perbankan syariah secara signifikan. Kita bersama bersama Qatar, Saudi Arabia, Malaysia, UEA dan Turki yang disingkat dengan QISMUT merupakan negara yang dianggap cukup penting karena tergolong ke dalam negara yang memiliki pertumbuhan pasar yang tinggi, atau dikenal dengan Rapid-Growth Market (RGM). Untuk masuk ke dalam RGM negara tersebut harus memenuhi kriteria diantaranya terbukti memiliki pertumbuhan yang tinggi serta potensinya, skala ekonomi dan jumlah populasi, dan kepentingan strategis untuk bisnis. QISMUT menjadi kelompok negara yang sangat penting bagi internasionalisasi industri perbankan Islam karena aset di enam negara ini berjumlah 78 persen dari seluruh perbankan syariah di dunia. Sementara total aset perbankan syariah di dunia mencapai US$1,7 Triliun, artinya QISMUT mendominasi total aset perbankan syariah dunia saat ini. Dan yang paling penting adalah bergairahnya perekonomian negara- negara ini serta pertumbuhan nasabah atau pasar untuk layanan keuangan yang tinggi menjadikan Indonesia sebagai prospek yang menarik bagi bank lain untuk memperbesar keuntungannya.

Fenomena bergairahnya keuangan dan bank syariah makin dilirik tidak hanya oleh negara- negara muslim namun juga negara- negara non-muslim di benua Eropa dan Amerika. Beberapa kajian juga sempat memaparkan bagaimana sistem keuangan syariah ternyata lebih tahan dalam menghadapi krisis ekonomi seperti yang terjadi di Eropa.

Indonesia sebagai negara yang memiliki penduduk muslim terbesar di dunia sadar akan hal itu. Tapi mungkin agak berbeda dengan provinsi Aceh yang mayoritas penduduknya juga beragama Islam plus diperkuat dengan adanya regulasi penerapan syariat Islam. Pemerintah Aceh belum sadar akan keunggulan sistem keuangan atau perbankan Islam atau mungkin pura- pura tidak sadar. Saya berkesimpulan seperti itu setelah melihat  dinamika tarik-ulur rencana pembentukan PT Bank Aceh Syariah (BAS).

Sejak tahun lalu saat draft rancangan qanun bank syariah sudah dibahas di gedung parlemen, lalu muncul wacana menarik kembali draft tersebut. Publik pun bereaksi. Ulama hingga akademisi unjuk suara melalui media massa menyayangkan keputusan tersebut dan hasilnya gubernur membatalkan niat tersebut. Alhasil di penghujung jabatan DPRA periode lalu draft qanun tersebut disahkan.


“Spin Off” Lebih Cocok
Pro-kontra tentang bank Aceh syariah berisikan tentang mekanisme yang harus ditentukan, pilih konversi atau spin off (pemisahan). Beberapa pakar perbankan berkomentar bahwa spin off lebih cocok karena dianggap relatif lebih aman. Lalu, diawal tahun 2015 disaat pemerintah sedang membahas RAPBA, muncul lagi tarik-ulur pendirian bank ini muncul lagi, kali ini berkaitan dengan besarnya penyertaan modal yang harus disetor pemerintah.
Wajar muncul pertanyaan mengapa rencana pembentukan BAS seperti “bermain layang-layang”, ditarik, lalu diulur tergantung angin. Atau ada masalah substansial apa yang membuat pemerintah Aceh ragu, yang kemudian memicu polemik di ruang publik. Dari beberapa informasi yang saya peroleh salah satu hal faktor krusial adalah karena ketidaksiapan internal atau pihak Bank Aceh sendiri.

Saat spin off menjadi pilihan maka ada sejumlah regulasi ketat yang harus dilalui, dan berbagai pra-syarat yang harus dipenuhi. Saya menduga pihak bank Aceh konvensional cenderung tidak siap dan takut bersaing “adik kandungnya” yang sedang ditunggu- tunggu oleh pasar. Ketakutan inilah yang kemudian diolah redaksinya agar terdengar lebih lembut ke telinga pembuat kebijakan.

Sebenarnya kehadiran BAS bukan hanya mampu mengusung sistem keuangan syariah tapi juga mampu mengoptimalkan pasar yang ada. Bukan hal mustahil dengan besarnya besarnya potensi pasar disini membuat bank- bank syariah lain berlomba- lomba beroperasi di Aceh, bahkan bank luar negeri sekalipun. Saya berandai- andai jika pemerintah Aceh tak serius mendirikan BAS, mungkin suatu saat nanti akan hadir Bank “London” Syariah di Aceh, mengingat betapa menggiurkannya pasar syariah saat ini seperti yang diutarakan oleh Perdana Menteri Gordon. Tanpa ada suatu brand lokal, takutnya nanti kita akan berkata (lagi) “Buya krueng teu dong- dong, buya tamong meuraseuki”.



*Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, UIN Ar-Raniry, Banda Aceh.

(Tulisan ini pernah dimuat di harian Serambi Indonesia, pada hari Kamis, 5 Februari 2015)

Mau Dibawa Kemana Perekonomian Kita? (‘Outlook’ Ekonomi Aceh 2015)

Senin, 5 Januari 2015

SAYA termasuk orang yang sependapat bahwa final piala Champion Eropa yang paling dramatis adalah saat Manchester United (MU) melawan Bayern Munchen di stadion Camp Nou, Barcelona pada 26 Mei 1999 silam. MU secara menakjubkan mampu membalikkan keadaan dari tertinggal 0-1 dan menjadi jawara liga paling bergengsi di Eropa itu di saat injury time. Saat tertinggal 0-1, manajer MU saat itu Alex Ferguson mengubah strategi dan taktik. Ia menukar Blomqvist dengan Teddy Sheringham dan mengganti Andy Cole dengan Ole Gunnar Solksjaer. Secara normal waktu telah berakhir, namun masih ada bonus injury time 3 menit. Ternyata 3 menit mampu dimanfaatkan MU dengan sangat efektif.


Keajaiban terjadi saat pemain pengganti Sheringham mencetak gol penyeimbang menjadi 1-1. Keajaiban untuk MU belum berakhir tatkala Solkjaer yang juga pemain pengganti menjadi penentu kemenangan 2-1, membawa MU resmi menjadi juara. Tidak hanya saya yang sangat terkesan dengan pertandingan ini, bahkan bagi wasit plontos yang terkenal tegas, Pierluigi Collina, mencatat pertandingan ini sebagai pertandingan yang paling dikenang selama ia menjadi hakim di lapangan hijau. Terakhir, sang penjaga gawang Peter Schmeichel juga memutuskan gantung sepatu. Ini adalah final terakhirnya.

Tak jauh beda
Itu cerita tentang sepakbola, untuk konteks Aceh dan pembangunannya saya rasa tak jauh beda. Tahun 2015 ini adalah tahun ketiga bagi pemerintahan Zaini Abdullah dan Muzakir Manaf. Walaupun masih pertengahan periode, tapi bagi saya catatan dan capaian pemerintah Aceh dari segi ekonomi pada 2014 lalu masih jauh dari harapan. Bahkan tak berlebihan jika dikatakan terburuk sepanjang mereka memegang tampuk pemerintahan.
Hal tersebut dapat dilihat dari pertumbuhan ekonomi. Memang kinerja perekonomian bisa diukur oleh beberapa indikator ekonomi yang menjadi cerminan kegiatan ekonomi di masyarakat. Pertumbuhan ekonomi dipakai dan dianggap sebegai indikator terpenting untuk menilai pencapaian ekonomi suatu negara atau daerah.
Saat mengukur perekonomian Aceh, tentu kita tidak bisa lepas dari kondisi perekonomian Indonesia, dan internasional. Untuk konteks Indonesia, beberapa lembaga memprediksi perekonomian Indonesia pada 2015 ini akan lebih baik dari sebelumnya. Lembaga seperti ADB dan The World Bank memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia berada pada kisaran 5,6%. Dari sisi investasi walaupun masih lemah, namun dari sisi ekspor cenderung lebih baik, mengingat perekonomian global seperti Amerika Serikat yang menunjukkan trend positif. Walaupun nilai tukar mata uang rupiah terhadap dolar sempat tembus ke angka psikologi Rp 13.000, namun beberapa pakar sepakat bahwa perekonomian Indonesia secara makro diperkirakan akan lebih baik.

Berbanding terbalik dengan proyeksi ekonomi nasional dan global, saya justru agak pesimis dengan pertumbuhan ekonomi Aceh yang secara “konsisten” mengalami penurunan. Jika merujuk pada “Catatan Akhir 2014 dan Outlook Perekonomian Aceh 2015” yang dipublikasikan oleh Bank Indonesia (BI), perekonomian Aceh tahun lalu mengalami penurunan. BI memperkirakan sampai akhir 2014 pertumbuhan ekonomi kita berada pada angka 3,24% (Serambi, 29/12/2014).

Dari sisi permintaan, konsumsi rumah tangga dan pemerintah memiliki share 64% bagi ekonomi Aceh. Konsumsi rumah tangga mengalami stagnansi, sementara untuk sisi konsumsi pemerintah mengalami penurunan yang disebabkan oleh penyerapan anggaran pemerintah Aceh yang tidak mampu mencapai target. Lalu angka ekspor yang menurun juga berkontribusi terhadap rendahnya pertumbuhan ekonomi. Namun yang lebih parah adalah pertumbuhan investasi yang mengalami penurunan cukup signifikan dari 16,7 menjadi 4,8%. Hal ini dipicu oleh menurunnya pertumbuhan investasi baik pemodal asing maupun dalam negeri.

Dari sisi penawaran, sektor utama pendorong pertumbuhan ekonomi yaitu sektor pertanian juga mengalami perlambatan, salah satunya karena adanya bencana alam seperti kekeringan. Intinya, BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi Aceh pada 2015 ini akan tumbuh sebesar 2,9 sampai 3,3%. Angka ini tentunya lebih kecil dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi tahun lalu, apalagi jika dibandingkan dengan target secara nasional.

Dari berbagai laporan tahun lalu dan proyeksi tahun ini, pemerintah Aceh sebenarnya masih punya waktu untuk memperbaiki kinerja mereka, walaupun dengan masa yang sebenarnya sudah memasuki santeng atau “injury time”. Jika Sir Alex melakukan re-strategizing saat tertinggal 0-1, maka pemerintah Aceh harus juga melakukan re-strategisasi dalam tata kelola pemerintahannya.

Saya tidak dalam posisi menyarankan untuk mengganti para pejabat, seperti mengganti pemain yang dilakukan dalam sepakbola, tetapi yang jauh lebih penting adalah siapa pun pejabat atau pembantu gubernur dan wakil gubernur tersebut harus paham dan dapat menerjemahkan visi dan misi pemerintah Aceh ini.

Untuk urusan gonta-ganti, seolah menjadi momok mengerikan bagi pejabat setingkat kepala dinas atau badan. Namun saya belum pernah melihat adanya suatu indikator yang jelas dan terukur untuk menilai layak atau tidaknya seorang pejabat menduduki posisi tertentu atau mengapa ia diganti. Sudah menjadi rahasia umum bahwa penentuan pejabat tersebut ditentukan berdasarkan “bisikan” kelompok tertentu, tanpa adanya rapor berbasis kinerja, kapabilitas, dan pencapaian yang dapat dipertanggungjawabkan.

 Jangan ada intrik
Yang tak kalah penting, pada 2015 ini “Aceh 1” dan “Aceh 2” sudah harus saling bergandeng tangan (lagi) untuk bekerja sama dalam membangun Aceh. Jangan ada lagi intrik, “politik kotor” atau upaya saling jegal antarsesama. Konflik antara dua pucuk pimpinan ini tentunya berimbas bagi jalannya roda pemerintahan, pembangunan dan kemasyarakatan. Silent conflict ini sudah dibuktikan dengan rendahnya pertumbuhan ekonomi dan aspek-aspek lain yang mengkhawatirkan.

Waktu yang tersisa hingga 2017 seharusnya dioptimalkan oleh pemimpin Aceh untuk bekerja sekuat tenaga untuk kepentingan rakyat, bukan mengejar kepentingan sempit dan saling jegal untuk “kepentingan” 2017. Dulunya mereka juga para pimpinan yang menuntut Aceh merdeka. Malu rasanya jika dulu berkoar-koar menyuarakan kesejahteraan rakyat, tetapi saat mendapat kesempatan memimpin ternyata tidak terbukti.

Tidak hanya rakyat, tentunya para pemimpin ini ingin merasakan husnul khatimah di akhir pemerintahannya, dan kelak dikenang sebagai pemimpin yang mampu menyejahterakan rakyat Aceh. Dari sisi ekonomi, kita masih berharap pemerintah Aceh sekarang mampu mengejar ketertinggalan pertumbuhan ekonomi seperti saat MU membalikkan kekalahan menjadi kemenangan.


Fahmi Yunus, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, 
UIN Ar-Raniry, Banda Aceh. Email: fahmiyunus@gmail.com

http://aceh.tribunnews.com/2015/01/05/mau-dibawa-kemana-perekonomian-kita?page=3


(Tulisan ini pernah dimuat di harian Serambi Indonesia, pada hari Senin, 5 Januari 2015)

Friday, December 26, 2014

10 Tahun Berlalu

Salah satu alasan saya tidak membawa anak- anak ketika ziarah ke kuburan massal tsunami adalah saya tidak ingin terlihat sedang menangis oleh anak- anak saya. Sebagai seorang laki- laki, dan ayah saya akan merasa tak pantas menangis di depan anak. Positioning saya sebagai ayah adalah seorang pria yang kuat. Pencitraan yang saya bangun tentang seorang ayah adalah laki- laki yang tegar, tabah, sabar dalam menghadapi hidup. Ayah harus menjadi seorang “superman” bagi anak- anaknya.

Tapi hari ini saya “terpaksa” membawa 2 orang buah hati mungil itu ke kuburan massal di Siron, Lambaro. Sejak pagi mereka merengek, setengah menangis minta ikut saya ziarah pada tanggal 26 Desember 2014, atau 10 tahun setelah bencana gempa tsunami yang memisahkan saya dengan ayah, mamak, istri yang sedang hamil, mertua, 2 adik dan keponakan yang lucu, sepupu, sodara, teman yang tak jumlahnya tak bisa saya sebutkan jumlahnya.

Akhirnya saya menyerah, dan mereka menyetujui beberapa syarat.

Sesampai di kuburan massal Siron, terasa atmosfir yang susah saya uraikan. Memang hingga saat ini saya tidak tahu dimana keluarga saya dimakamkan. Bahkan tidak ada satupun saksi mata yang selamat yang mengetahui atau setidaknya pernah melihat saat mereka dikuburkan. Saya hanya menduga dan menggunakan feeling saja bahwa ada anggota keluarga saya dikuburkan di kuburan massal korban tsunami terbesar di Aceh itu.

Baru melangkah beberapa meter, perasaan ini mulai bercampur aduk. Haru, mengundang air mata yang ingin segera tumpah. Saya coba tahan, dan berhasil. Kami keliling melihat kuburan massal. Saat itu di salah satu gundukan, Aya putri saya yang berusia 6 tahun, bertanya sambil mengarahkan jarinya.

“Ayah, kenapa di kuburan ini ada orang bakar lilin dan asap?”

Saya jelaskan itu adalah ritual doa yang dilakukan oleh sodara- sodara kita Tionghoa. Saya bilang ke Aya, mereka punya cara berbeda dengan kita dalam berdoa. Memang dibawah pekuburan massal ini berbaring puluhan ribu manusia dari berbagai suku, ras dan agama.

Selamat. Saya masih bisa mempertahankan air mata agar tak tumpah, ujar saya dalam hati.

Lalu kami duduk, dan saya mulai membaca doa. Salah satunya surah Yasin. Baru mengucapkan bismillah air mata ini sudah mulai tak terbendung. Rafa putra saya yang berusia 3 tahun, sempat memperhatikan mata saya, terlihat wajahnya bingung. Mungkin dia sedang bertanya, mengapa mata ayah merah dan seperti berair. Tapi dia urung bertanya, mungkin dia masih berfikir mata saya kemasukan debu.

Ayat demi ayat saya bacakan, doa pun saya lantunkan untuk keluarga saya dan siapa saja di bawah tanah itu. Namun air mata ini seperti air bah disaat musim hujan. Ia tak mampu dibendung lagi, mengalir begitu saja tanpa mampu saya kendalikan. Kini terlihat wajah heran dari Aya dan Rafa. Lagi- lagi mereka tak berani bertanya langsung kepada saya, mungkin mereka ingin menjaga pencitraan yang sedang saya bangun selama ini.

Setelah berdoa, kami berbincang dan mereka mengajukan pertanyaan- pertanyaan yang beberapa diantaranya mampu saya jawab, sedangkan sisanya saya hanya terdiam.

Misalnya Aya tanya, “Ayah kenapa orang- orang meninggal harus dikubur?”

“Kenapa ada tsunami?”

“Mengapa kita harus berdoa?”

Atau pertanyaan Rafa, “Ayah, tadi katanya mau pergi ke tempat orang meninggal, tapi mana orang meninggalnya?”

Terakhir keduanya bertanya dengan kompak, “Ayah kenapa di kuburan ini ada orang yang jual mainan?” tanya mereka sambil menunjuk seorang pria yang sedang jual balon warna- warni keliling.

Mata saya makin bengkak dan merah, saat menutup doa- doa. Karena yang terbayang adalah wajah keluarga tercinta yang entah dimana. Di dalam hati saya berbisik, walaupun saya ziarah ke kuburan ini cuma 1 tahun sekali, tapi saya selalu mendoakan mereka. Di dalam shalat saya selalu memohon Allah SWT mengampuni dosa mereka, melapangkan kuburnya, dan memberikan mereka tempat indah yang bernama syurga. Doa itu selalu saya panjatkan tanpa henti, tanpa perlu menunggu tanggal 26 Desember.

Disana saya juga berbisik dengan air mata yang berurai, “Aku selalu rindu dan selalu sayang pada kalian”

Sebelum meninggalkan Siron, saya sempat bertemu abang ipar, atau abang dari istri saya Maisarah. Kami berpelukan erat, sambil melepaskan air mata sebanyak- banyaknya. Sepertinya ini air mata yang tadi sempat tertunda. Kini ia lepas, bebas, tanpa segan keluar dari celah- celah yang ada di mata saya. Kedua- anak saya juga memandang kami, tapi mereka tak bertanya lagi.

Akhirnya kami pulang. Seperti biasanya dua anak yang lahir dari seorang ibu bernama Cut Aida itu minta beli ini dan itu, mereka minta jajan. Sambil sekali- kali melihat saya menyeka sisa- sisa air mata.

Sesampai di rumah mereka bermain lagi. Beberapa saat kemudian istri saya yang tidak ikut pada ziarah tadi karena sedang hamil tua anak ketiga kami memanggil saya ke dalam kamar. Istri saya bilang tadi Rafa sempat cerita, katanya,

“Ma, tadi Adek lihat Ayah menangis”


Allahummaghfirlahum warhamhum wa’afihi wa’fuanhum.... #26 Desember 2014.


Saturday, October 11, 2014

Survey: 1001 Alasan Memilih Sanger

Setahun lalu saya masih ingat saat ngetwit dalam keadaan sadar-sesadarnya. Malam sebelum tanggal 12 Oktober 2013, jemari saya menyuruh ngetwit yang isinya mengenai urgensi memperingati atau merayakan #SangerDay. Kenapa 12 Oktober? Karena saat ide itu datang tepatnya tanggal 11 Oktober 2013 malam, jadi sudah malam, gak asik aja. Jadi, dirayakannya besok aja, tanggal 12 Oktober. Lantas ada yang tanya, apa urgensinya? Kenapa perlu diadakan #SangerDay? Ini pertanyaan sulit yang perlu riset serius untuk menjawabnya. 

Akhirnya saya berkesimpulan bahwa #SangerDay perlu diadakan “supaya ada”. Bayangkan kalo kita tidak merayakan atau mengadakannya, pasti gak akan ada kan?

Ternyata twit saya direspon secara serius oleh akun @Iloveaceh. Akun atau tim inilah yang membuat ide kecil memperingati #SangerDay menjadi besar dan dahysat.



Sejarah Sanger
Apa itu Sanger? Siapakah penemu Sanger?

Jika merujuk pada Wikipedia, katanya Sanger (minuman), itu adalah kopi susu khas Aceh. Sementara nama Sanger juga merujuk pada tempat atau kota- kota di Amerika Serikat.



























Wikipedia sudah betul mendefinisikan Sanger, tapi mereka pasti belum tahu sejarah tentang sanger. Saya yakin itu. Mungkin masih banyak yang belum mengerti tentang makna Sanger karena mungkin mereka belum paham sejarah lahirnya Sanger.

Sanger lahir tanpa bidan, tanpa tanggal (karena saya lupa). Seingat saya di tahun 1997, saat krisis moneter menerpa Indonesia. Harga barang- barang melonjak drastis, sangat mahal. Inflasi gila-gilaan. Tapi orang gila tidak inflasi- inflasian. Di salah satu warkop di seputaran Ulee Kareng, Atalanta namanya, mahasiwa genre reformasi sering ngopi disana. Tidak hanya minum kopi, tidak sedikit kawan-kawan saat itu cuma minum teh. Bagi yang ingin minum kopi, bolehlah pesan kopi susu. Nah, disinilah awal Sanger lahir. Susu atau creamer yang biasa digunakan pada warkop di Aceh mengalami dampak krisis ekonomi tersebut, harganya ikut-ikutan mahal. Akibatnya pemilik warung terpaksa ikut menaikkan harga kopi susu. Harga naik tidak diiringi dengan naiknya uang jajan para mahasiswa. Mahasiswa yang tidak kuat minum kopi hitam, dan tak mampu membayar kopi susu melakukan “negosiasi” dengan pemilik warung. Akhirnya dicapai kata sepakat dengan mengurangi kadar susunya, dan menambahkan unsur gula. Kesepakatan ini dilandasi atas semangat saling mengerti atau “Sama-sama Mengerti”. Perlahan tapi pasti hingga sekarang nama Sanger menjadi merk dan branding kopi susu nikmat dari Aceh. Jika ingin “berterimakasih”, maka berterimakasihlah pada mahasiswa Aceh dan krisis moneter. Dan perlu saya tekankan, bahwa Sanger itu samasekali tidak ada kaitannya dengan kata sangar. 












Alasan Memilih Sanger (Mayoritas menganggap Sanger adalah minuman nikmat)

Ada 1001 alasan orang memilih dan minum Sanger. Untuk itu, saya mencoba melakukan survey kecil- kecilan untuk melihat mengapa atau alasan apa dibalik “fenomena” Sanger ini. 

Menurut survey yang tidak terlalu saintifik dan ilmiah ini, ternyata sebagian besar orang atau 42%  merasa Sanger adalah minuman “nikmat dan pas di lidah”. Faktor ekonomis yang menjadi dasar lahirnya Sanger juga berpengaruh pada preferensi orang terhadap minuman ini, yaitu ditandai dengan 17% orang memilih Sanger karena “Harga standar”. Standar disini dimaknai sebagai harga yang tidak terlalu mahal dan cocok di kantong. Sedangkan sisanya yaitu, mulai dari “Gak kuat minum kopi hitam” sebanyak 9%. Ada juga yang ingin “Biar tambah sangar” sebanyak 8%. Yang menarik ada responden yang menjadikan Sanger sebagai minuman yang “Bikin tidur nyenyak” dan “Supaya proses lancar”. Proses lancar menurut analisis psikologis biologis, dapat dimaknai “lancar” saat di WC. Namun, ada juga responden “nyeleneh” dengan menjawab bahwa alasannya minum Sanger adalah “Bah Sangak” (Terjemahan bebas bahasa Aceh: Supaya Bengong). Untuk lebih lengkapnya silakan lihat grafik berikut.


















Memang ada 1001 dan beragam- macam alasan orang minum Sanger. Silakan aja, bebas aja. Yang penting jika Anda minumnya di warkop atau café, jangan lupa bayar, karena dampaknya akan sangat berbahaya.


Selamat menikmati Sanger, selamat memperingati dan merayakan #SangerDay.



Banda Aceh, 12 Oktober 2014



Friday, September 19, 2014

SUREENOMICS


Ini kisah tentang ikan Suree (bahasa Aceh), atau Tongkol alias Tuna. Pagi tadi, seperti Sabtu pagi yang lalu dan yang sudah-sudah, saya belanja di pasar pagi, namanya Pasar Setui. Aktivitas saya berbelanja memang tidak penting bagi Anda, karena cukup keluarga saya saja yang merasa penting. Tapi, pagi ini saya ingin bercerita tentang kisah si Suree atau tongkol tadi dalam perekonomian, khususnya bagi negeri ini. (*lho, apa hubungannya?)

Di pasar tadi, khususnya di lapak penjual ikan, Suree mendominasi. Sepanjang observasi saya, ada banyak Suree, tidak seperti biasanya. Dalam hati penjual ikan mereka seolah ingin berkata “Ketika Musim Suree Tiba”. Tapi yang menarik minat saya bukan kepada penjual ikan tersebut, karena memang sudah tugas mereka menjual ikan, kalo mereka tidak jual ikan, mereka harus cari profesi baru, boleh tukang sayur, insinyur, atau gubernur. 



Oke, kembali ke Suree. Suree yang membanjir logikanya mampu menurunkan harganya. Seperti yang dipelajari dalam ilmu ekonomi, jika persediaan suatu barang di pasar atau supply banyak, maka harga biasanya turun. Contoh lain, saat musim duren di Banda Aceh beberapa bulan lalu. Saat duren membanjiri kota, harganya secara otomatis rendah, kata orang ini juga hukum pasar. (*padahal hukum kan di pengadilan, kok di pasar?). Jika sebelum musim duren tiba, harganya berkisar antara 20 ribu lebih, maka disaat ia berlimpah, harganya turun hingga ada yang 7 ribuan. Intinya duren melimpah, harganya terjerembab. Begitu juga dengan komoditas lain, seperti cabe merah, bawang dan lain-lain.

Nah, yang saya tidak herankan kenapa disaat Suree melimpah, harganya juga merangkak naik. (*Jika Anda heran itu wajar, sedangkan saya tidak heran karena saya sudah tahu jawabannya. Tapi saya pura-pura heran dulu, agar saya bisa berfikir dan bertanya-tanya).
Beberapa minggu lalu, Suree dengan ukuran –mungkin sekitar 2 kilo lebih- berada pada kisaran 50 ribu, terkadang kalo boleh nawar, dikasihlah 45 ribu. Kalo ibu-ibu yang nawar bisa jadi 40 ribu.(*Ini skill yang sangat rumit dan belum saya kuasai). Sabtu ini, Suree ini berani jual mahal, pada posisi 60-70 ribu perak. Lho kok bisa naik, kan stoknya banyak, ada apa ini? Kondisi ini pasti ada jawabannya, karena ada korelasi dengan kondisi ekonomi dan kebijakan politik pemerintah. (*Waduh, apalagi ini, kok Suree bisa berurusan dengan politik? Emang Suree anggota Parpol apa?)

Begini, ternyata eh ternyata gonjang-ganjing dan masalah kelangkaan BBM ternyata punya andil. Disaat BBM bersubsidi langka atau dibatasi, konsekuensi logisnya tentu pemakai atau produsen  bergantung padanya. Nelayan butuh BBM solar untuk mencari dan menangkap para Suree untuk kemudian dibawa ke daratan, dan dijual di pasaran. Nelayan sempat mengeluh susahnya mendapatkan solar, kalopun ada harganya lebih mahal. 

Nelayan gak ada pilihan lain untuk mengganti solar sebagai bahan bakar. *Mungkin jika air laut bisa menjadi bahan bakar, ceritanya gak akan seperti ini J. Belum lagi kebutuhan hidup lain yang harganya juga terus meningkat. Maka, nelayan harus menyesuaikan kondisi ini dengan menaikkan harga Suree. Orang yang belajar ekonomi bilang ini namanya INFLASI. Ya, ternyata Suree berkontribusi terhadap inflasi di Aceh. Serius, ini bukan lebay. Tidak percaya, silakan tanya BPS. (*Apa itu? Badan Pusat Suree?). Bukan, BPS itu adalah Badan Pusat Statistik.

Bahkan dalam beberapa laporan BPS memaparkan data tentang komoditas yang memberikan andil tinggi terhadap terjadinya inflasi, salah satunya ya Suree itu. Sebenarnya inflasi tak selamanya jahat, karena ia bukan seperti lemak jahat. Inflasi juga ada manfaatnya juga bagi perekonomian, makanya pemerintah punya perhatian serius terhadap dinamikan ini. Dan bukan hanya inflasi, ternyata Suree juga berpengaruh besar terhadap nilai garis kemiskinan baik di kota maupun di desan. (*What? Suree bisa berpengaruh sedahsyat itu? ) Ya, begitulah, Oom di BPS yang bilang gitu. Walaupun bukan hanya Suree, tapi juga komoditas lain seperti beras, hingga rokok kretek filter.
Maka tak heran disaat Suree makin mahal, harga bahan makanan juga ikut-ikutan. 

Orang Aceh memang suka makan Suree. Menu varian Suree sangat lazim dijumpai di rumah makan dan resto di Aceh, misalnya tumis Ikan Kayu, yang berbahan utama Suree. Saya sedang membayangkan bagaimana pengaruh Suree ini pada industri kuliner di Aceh. Selain itu, kepedulian saya terhadap Suree ini juga karena saya termasuk sebagai presidium “Ikatan Keluarga Penggemar & Pencinta Suree, Tuna alias Tongkol” kalo disingkat “IKANPAUSTOK”. Membayangkan ini akhirnya membuat saya lapar, dan ingin menyantap Suree yang sudah diolah dan dimasak secara luar biasa oleh istri saya.
Ya udah, makan dululah. Selamat makan..:)







Tuesday, July 01, 2014

Memaknai Kentut Jokowi

Sebagai manusia  normal, kita tentu pernah kentut. Kentut bersifat universal karena ia tak memandang dari suku apa, agama apa, bangsa apa, atau warna kulitnya apa. Kentut juga mempunyai karakteristik dari segi suara dan aromanya. Dari segi kesehatan kentut dapat menjadi indikator penting, misalnya sehabis menjalankan operasi, biasanya pasien akan ditanyai dokter apakah ia sudah kentut. Tapi kehadirannya sering dianggap tidak penting, karena ia hadir ke atmosfer melalui jalur yang sering dianggap tabu untuk didiskusikan. Tetap saja kentut itu penting bagi siapa saja, termasuk Jokowi.

Siapa Jokowi? Kenapa kentut Jokowi menjadi penting? Setidaknya bagi saya ini penting bagi orang lain belum tentu.

Sebagai warganegara Indonesia yang sekarang mencalonkan diri menjadi presiden, Jokowi menjadi sosok penting yang dibicarakan oleh siapa saja, apalagi media. Istilahnya, tidak ada hari tanpa Jokowi atau Joko Widodo di media. Diskusi dan kajian tentang kentut Jokowi saya yakin belum menjadi bahan diskursus yang serius dan sering tak dibahas secara khusus. Tapi saya yakin seiring berjalannya waktu, segala aspek tentang Jokowi sudah habis dibahas media dan dibicarakan publik, maka aspek kentut yang menjadi isu menarik dan penting yang akan menjadi bahan bagi media dan pesaingnya.

Suatu saat nanti, saat Jokowi kentut orang akan memaknainya kedalam ranah politik. Contohnya, pada hari pertama Jokowi kentut, suaranya lembut, nyaris tak terdengar dan tak berbau. Lalu media dan pesaingnya mengklaim itu adalah pencitraan. "Masak kentut tidak bau, ini pasti pencitraan" komentar salah seorang pengamat politik di salah satu media elektronik. Sementara kelompok garis keras tak mau ketinggalan, mereka ramai menyerang dengan mengatakan "Itu kentut setan" karena tak bersuara dan tak berbau. Kelompok aliran lain lantas menuduh "pasti ada konspirasi global yang membuat kentut Jokowi tak bersuara. Ini harus dibongkar" papar mereka di media sosial. Hebatnya, ada pula yang menuduh Jokowi bukan penduduk bumi, "Dia alien" ujar mereka dengan tegas. Sementara, kelompok yang agak cerdas berusaha membahas kentut Jokowi secara ilmiah. Mereka akhirnya berkesimpulan, "Jokowi mengkonsumsi suplemen pewangi kentut yang secara signifikan mampu mereduksi aroma kentut sebesar 95 persen, dengan margin error +/- 2,5"

Esok hari, Jokowi kentut lagi. Tapi kali ini bersuara nyaring, dan beraroma tak sedap, seperti kentut-kentut mainstream lainnya. Ini pun tak luput dari perhatian media dan publik. Lagi- lagi ada yang berkesimpulan itu "pencitraan". Jokowi berusaha terkesan merakyat dengan memiliki kentut yang aromanya "merakyat" pula. Jokowi dituduh berusaha keras untuk membuat kentutnya berbau tak sedap, dilengkapi dengan ilustrasi Jokowi sedang menyantap pete dan jengkol, menggunakan software seperti photoshop. Kelompok aliran keras tak mau ketinggalan, mereka lagi-lagi berkoar-koar di media sosial mengatakan ini bukti  bahwa Jokowi adalah makhluk jenis omnivora yang memakan semua jenis makhluk di muka bumi. "Jokowi itu adalah pemangsa semua jenis kuliner, mulai ayam tangkap, rendang, gudeg, sate, hingga papeda, maka kentutnya seperti itu" tulis mereka. Lalu, kelompok yang agak terpelajar menuduh Jokowi sebagai agen asing, karena kentutnya dianggap mewakili kepentingan asing di Indonesia. "Kentut Jokowi memiliki agenda, ideologi politik dan ekonomi asing yang sangat berbahaya. Kentut Jokowi berpaham neo-liberalisme" terang mereka pada salah satu seminar di kampus.

Lalu, di hari ketiga, Jokowi belum kentut dan belum ada tanda- tanda akan kentut. Rupanya, Jokowi cukup resah dan gelisah karena dinamika kentutnya menjadi konsumsi publik, karena baginya itu adalah privasi. Ia mencoba menahan diri, agar tidak ada interpretasi tentang kentutnya lagi yang ujung- ujungnya menjurus pada fitnah. Jokowi sangat tahu bahaya fitnah. Ia coba tahan kentutnya agar tidak keluar, agar para pesaing dan musuhnya tidak lagi melakuan fitnah. Ia mencegah mereka melakukan dosa. Ia ikhlas.

Tapi, yang namanya orang iri, dengki, para pembenci tak mau tinggal diam. Kali ini mereka semakin yakin bahwa Jokowi itu penuh pencitraan dengan tidak kentut di hari itu. Mereka bangga dan bertepuk dada berkata "Lihat, pencitraan apalagi yang dibuat Jokowi. Ia tidak bisa kentut. Pemimpin macam apa yang tidak bisa kentut?"

Akhirnya, Jokowi pun meresponnya dengan tenang  dan senyum seperti biasa, sambil secara perlahan-lahan melepas kepergian kentut dengan suara sehalus mungkin. Ia tak tahan, Ia harus kentut hari itu juga. Dan ia tak ingin menzalimi angin yang harus keluar dari tubuhnya itu. 

Sunday, June 29, 2014

Aya dan Temannya

Salah satu perhatian penting orangtua terhadap anaknya adalah mengetahui dengan siapa mereka berteman dan bermain. Sebagai Ayah, saya sering memperhatikan anak yang sedang bermain, saya juga sering curi-dengar apa yang dibicarakan anak-anak dengan temannya. Ada yang lucu, aneh keluar dari mulut-mulut mungil mereka. Saya juga sering khawatir dan ikut "jantungan" saat mereka bereksperimen permainan baru. Apalagi, kalo melihat Rafa yang baru berusia 3 tahun, mulai rajin salto. Entah siapa yang dilihatnya, padahal, saya gak pernah salto dihadapan mereka, selain karena faktor usia, juga karena tak selincah mereka. Jika saltonya atau jungkir balik di atas tempat tidur, saya masih agak tenang, tapi saat melihat dia ancang-ancang salto di lantai, saya siap-siap melarang. Ada yang bilang, anak-anak tak boleh dilarang, tapi sebagai orang tua, kita perlu tahu mana yang dibolehkan dan mana yang harus dilarang. Untuk seumur Rafa, salto di lantai, saya haqqul yaqin itu harus dilarang. Setelah itu biasanya saya kasih alternatif aktivitas lain.

Baru-baru ini, Aya, putri saya yang berusia 6 tahun, masih TK, punya teman perempuan baru, yang usia 2 tahun di atas Aya, dan sekarang sudah kelas 2 SD. Sebut saja namanya Bela. Saya tak kenal orang tuanya, tapi mereka penghuni baru di komplek kami, yang rumahnya berada sekitar 50 meter dari rumah kami. Yang mengejutkan, ini serius membuat saya terkejut, atau tepatnya shock, Bela yang kelas 2 SD ini ternyata belum bisa membaca. Menurut saya, kalo masih kelas 1 belum bisa membaca, It's OK, karena masih belajar. Tapi, kalo kelas 2, saya bertanya dalam hati dan sering berdiskusi dengan istri saya. Dan kalo dia tak bisa membaca, kenapa dia bisa naik ke kelas 2?

Aya, mungkin agak unik. Walaupun secara khusus kami tak pernah mengajarinya baca-tulis, tapi kami membiarkan Aya mencorat-coret dinding sesukanya. Boleh pake pensil, spidol, crayon, dll. Walaupun terkadang, jadi gak enak saat tamu atau saudara datang mendapati rumah kami mulai dari ruang tamu hingga kamar tidur sudah seperti gallery lukisan abstrak. Dan, awal Aya bisa menulis namanya, ya di dinding rumah kami. Dengan bangga ia pamerkan kepada kami saat pertama kali ia berhasil menuliskan "AYA" (pakai huruf besar semua). Selain itu saya dan istri punya hobi membaca, juga sering membacakan cerita, dongeng, dari buku menjelang mereka tidur. Saya rasa kebiasaan melihat orang tuanya membaca, dan mendengarkan cerita sebelum tidur membuat Aya punya motivasi yang kuat untuk bisa membaca. Alhasil, tiap malam sebelum tidur Aya minta dibacakan cerita apa saja, baik dongeng, kisah-kisah teladan, dan lain-lain, yang penting ada sesuatu yang harus dibacakan.

Mungkin juga karena bebas menggambar di dinding, saya melihat Aya punya bakat menggambar. Sering ia menulis atau menggambar sesuatu di kertas kecil dan diwarnai, lalu memberikan kepada sebagai hadiah. Karya dan gambar Aya adalah cara dia mengekspresikan sayangnya kepada orang lain dengan memberikan sesuatu. Ya, dengan gambar atau tulisan. Pernah, dengan bangga ia tuliskan nama abang sepupunya di sebuah kertas, dan dengan penuh kebanggan menyerahkan kepada sepupu tersebut sebagai hadiah. Mungkin bagi mereka itu biasa, tapi bagi saya itu luar biasa.

Kembali ke Bela teman baru Aya. Karena agak susah bagi orang tua melarang anaknya bermain dengan siapa, karena di tempat tinggal kami anak-anak seusianya agak langka. Selain, kami tak ingin membiasakan anak-anak nonton TV, maka kami lebih memilih opsi anak bermain-main, berinteraksi secara langsung dengan temannya. Tapi saya dan istri tetap memantau. Jika mereka bermain di dalam rumah masih mudah dipantau, tapi saat bermain di luar rumah, kami sering mengintip dari jendela mereka dimana, atau sedang bermain apa. Apalagi, beberapa kasus di media tentang kekerasan terhadap anak makin membuat orang tua khawatir dan resah.

Istri saya pernah bilang, "Kita harus bisa memberikan pengaruh baik kepada teman anak-anak kita sebagai pencegahan agar anak kita tidak terpengaruh hal-hal yang tidak baik." Salah satu hal luar biasa yang sedang dan telah dilakukan istri saya adalah ia menjadi "relawan" yang mengajari Bela membaca. Disaat mereka bermain, ada waktu tertentu dimana istri saya mengajari Bela, tidak lama, sekitar 30an menit. Dan kita juga kaget, ternyata Bela bukan hanya tak bisa membaca, tapi juga tak hafal huruf. Dia masih susah membedakan "C" dan "G". Sesekali Rafa, anak laki-laki saya yang berusia 3 tahun ikut nimbrung memberitahukan bacaan yang tepat, walaupun masih cadel. Dampak positif lainnya, selain mengajarkan Bela, secara tidak langsung Rafa jadi ikut semangat melihat orang belajar. Ia mulai bisa membaca beberapa huruf.

Beberapa minggu lalu, anak SD sedang ujian naik kelas. Saya sempat tanya ke Bela, "Besok ada ujian apa Nak?" Dia jawab "Itu..tu ujian yang ada isi-isinya". Saya terdiam dan berfikir entah siapa yang patut disalahkan. Apakah sang anak, orangtua, guru, pihak sekolah atau sistem pendidikan? Bela, bahkan dia tidak tahu akan ujian apa esok hari, sementara sudah kelas 2.

Oiya, beberapa saat lalu anak SD sudah dibagi rapornya. Dan lagi-lagi saya kaget, ternyata Bela naik kelas 3. Selamat Bela, walau engkau belum bisa membaca.